Rabu, 19 Januari 2011

Pengalaman Gay Pertama Eza






























****
Di sebuah kota di Sumatera, hiduplah sepasang sahabat karib. Eza dan Rudi sudah bersahabat sejak kecil. Seiring dengan berlalunya waktu, mereka tumbuh dewasa. Eza kehilangan Rudi saat Rudi memutuskan untuk bekerja di Bandung. Pada saat itu, umur mereka sudah genap 20 tahun. Meskipun mereka berteman akrab, namun Eza tidak pernah mengetahui rahasia terbesar Rudi. Rudi diam-diam memendam hasrat homoseksual pada Eza. Tapi celakanya, Eza 100% heteroseksual, sama sekali tidak pernah memikirkan ataupun membayangkan hubungan homoseksual. 

Eza sendiri merupakan cerminan dari figur seorang pria sejati yang jantan. Wajahnya nampak tangguh dan maskulin berkat jambang dan kumis halus. Meskipun dia berkacamata, dia tetap nampak macho, jauh dari kesan kutu buku. Sehari-harinya, Eza suka mengenakan kaos oblong dan celana jeans ketat, sehingga bentuk tubuhnya yang jantan sering terekspos di balik pakaiannya. Aura kejantanan menyebar dari tubuhnya. 

Saat dia berjalan keluar, para wanita dan pria gay diam-diam meliriknya dan membayangkan tubuh telanjangnya. Eza juga sadar bahwa dirinya seksi dan jantan, maka terkadang sering mempergunakan daya tariknya untuk mencicipi wanita. Tapi tak pernah terpikirkan olehnya untuk mencoba tubuh lelaki ataupun mencoba untuk dilayani oleh lelaki, sampai dia bertemu kembali dengan Rudi. 

"Kamu nampak makin ganteng, Eza," kata Rudi, duduk di sampingnya. 

Dua sahabat itu sedang duduk berduaan di suatu sore di rumah Eza. Kebetulan sekali, rumah Eza sedang kosong. Jantung Rudi deg-degan saat kehangatan tubuh Eza menyentuh tubuhnya. Ingin sekali dia memeluk sahabatnya itu, tapi apa jadinya jika Eza keberatan dan ngamuk. Tapi hasrat yang tertimbun dalam diri Rudi sudah terlalu besar, sebentar lagi akan meledak bagaikan gunung berapi. 

"Badan kamu juga semakin keras saja. Kamu berolahraga?" Tangannya merajarela di atas tubuh Eza, merasakan lekuk tubuh seorang pria sejati. 
"Tidak juga. Tapi omong-omong, emang saya ganteng beneran?" tanya Eza penasaran. 

Nada bicaranya setengah tertawa dan setengah serius. Sudah lama dia tidak bertemu Rudi, kangen sekali pada sahabatnya itu. Saat Rudi meletakkan tangannya di bahunya, Eza sama sekali tidak mencurigainya. 

"Benar, Eza. Kamu ganteng sekali. Aku.." Sesaat, Rudi terdiam, bingung harus berkata apa. Dia bingung apakah harus mengakui homoseksualitasnya pada Eza atau tidak. 
"Eza, aku suka kamu." Tanpa pikir panjang, Rudi membeberkan semuanya. 
"Aku suka kamu, Eza," ulangnya, matanya tertuju ke lantai. Tangannya ditarik mundur dari bahu Eza. 
"Apa katamu? Kamu suka saya?" Eza terpana, terkejut. 
"Kamu bercanda, kan?" tanyanya untuk memastikan. Tapi jawaban yang didapat Eza hanyalah gelengan kepala Rudi. 
"Tidak, Eza. Aku serius. Aku suka kamu. Aku ingin bercinta denganmu. Sudah lama saya menyukaimu tapi saya tidak berani mengatakannya. Aku tahu kamu heteroseksual, dan saya tidak akan memaksamu untuk menjadi homo seperti saya. Tapi kumohon, izinkan saya untuk melihat batang kejantananmu. Izinkan aku memegang kontolmu." Rudi memohon dengan memelas, bersimpuh di depan Eza. 

Eza tentu saja menjadi panik dan bingung. Dia adalah pria sejati, seorang pejantan. Pria sejati tidak akan melakukan hubungan homoseks. Eza sama sekali tidak tahu apa-apa tentang homoseksualitas. Tapi Rudi terus saja memohon dan memelas, nampak sangat putus asa. 

"Aku nggak tau harus gimana," jawab Eza, bingung. 
"Kumohon, biarkan saya melihatnya, menyentuhnya, menciumnya, dan mengulumnya. Kamu diam saja dan biarkan saya memberikan kamu kepuasan yang belum pernah kamu dapat dari cewek. Tolonglah, Eza," mohon Rudi, tangannya meremas-remas kemaluan Eza yang masih terbungkus celana jeans. 

Tak kuasa menolak permintaan temannya itu, Eza menyerah juga. 

Pelan-pelan, meski masih ragu, dia melepas jeans dan celana dalamnya sampai ke lutut. Kembali duduk, Eza melebarkan 
selangkangannya agar Rudi dapat leluasa mengagumi batang kontolnya. Batang itu memang masih lemas namun di ujung kepalanya masih terdapat sisa sperma akibat dari masturbasi pagi tadi. Rudi, bagai tersihir, hanya bisa memandangi kontol itu. 
Perlahan, Rudi mendekatinya dan menciumi kontol itu. Lidahnya 
mulai beraksi, menjilat-jilat permukaan kepala kontol Eza. 

"Aahh.. Hhoohh.." desah Eza keenakkan, badannya menggeliat sedikit. 

Melihat temannya menikmati servisnya, Rudi semakin bernafsu. Dengan sebelah tangan, Rudi mengocok-ngocok kontol Eza sampai batang itu mulai mengeras. Seperti trik sulap, batang kejantanan Eza mulai memelar dan memanjang. Rudi menahan air liurnya saat menyaksikan batang itu mengeras. Kepala kontol Eza yang bersunat itu mengkilat akibat sisa air liur Rudi. Batang itu berdenyut-denyut, hidup. Tanpa ragu, Rudi langsung memasukkan seluruh kontol itu ke dalam mulutnya. 

"Hhoohh.." desah Eza lagi. 

Kenikmatan mengalir di tubuhnya saat batang kontolnya menerima kehangatan. Ah, tiada yang lebih nikmat daripada dioral, selain menyodomi. Seperti mesin pompa, Rudi memompa kontol Eza. Naik-turun, naik-turun, terus-menerus dengan ritme tetap. Hisapan Rudi terasa sangat bertenaga akibat nafsu yang bergelora dalam dirinya. Tak pernah disangka bahwa akhirnya dia bisa juga mewujudkan impian terbesarnya, yakni menghisap kontol Eza! Kontol Rudi sendiri mulai bangkit, membesar dan mengeras. 

Sambil tetap menghisap kontol Eza, Rudi membebaskan kontolnya sendiri dari kungkungan celana panjangnya. Eza terpesona karena heran melihat kontol Rudi yang ngaceng. Baru kali ini dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri seorang pria yang terangsang akibat menghisap kontol pria lain. Bersandar pada kursinya, Eza menutup matanya, terus mendesah-desah. Oh, kenikmatan ini sungguh tak terkatakan. Rudi memang seorang penghisap kontol yang hebat! 

Tubuh Eza mulai berkeringat. Dengan sekali tarik, kaos onblongnya terlepas. Rudi mendongak ke atas dan disuguhi dengan pemandangan yang menggetarkan kontolnya. Tubuh Eza yang hampir telanjang bulat itu berkilat dengan keringat. Dadanya yang padat nan berbulu halus mengembang mengempis, mengambil napas. Kedua puting kecoklatan menghiasi dadanya, semakin menambah rangsangan. Rudi berhenti menyedot kontol Eza dan langsung menggerayangi dada pria jantan itu. Seperti bayi, Rudi dengan haus menyedot-nyedot puting Eza. Sedotannya terasa kencang dan bertenaga sehingga Eza keblingsatan menahan nikmat. 

"Aahh.. Oohh.. Rud.. Enak banget.. Oohh.. Jilat putingku.. Oohh.. Aahh.." Lupa akan dirinya yang heteroseksual, Eza tenggelam dalam nafsu birahi antar sesama jenis. Dia menginginkan agar Rudi melayani nafsunya. Rudi terus-menerus berpesta di atas dada Eza. Seakan-akan tak pernah puas, pemuda itu menjilat, memeras, meraba bagian pectoral Eza. 

Terbakar birahi, Rudi segera melepaskan seluruh pakaiannya. Tanpa malu, Rudi memperlihatkan ketelanjangan tubuhnya di hadapan kawannya. Kontolnya masih ngaceng dan meliurkan precum. Dengan gaya yang menggoda namun maskulin, Rudi memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya. Eza memang tidak terangsang dengan tubuh Rudi sebab dia bukan gay, namun dia terangsang saat mengingat betapa nikmatnya kuluman sahabatnya itu. Kontol Eza kembali berdenyut-denyut, ingin merasakan kenikmatan itu kembali. 

"Rudi, isep lagi donk," pinta Eza manja sambil menggoyang-goyangkan kontolnya. 

Dia tahu, Rudi pasti mau menghisap kontolnya lagi. Benar saja, Rudi tersenyum mesum dan senang. Pemuda itu langsung kembali berlutut dan membenamkan mulutnya di kontol Eza. Seperti serigala kelaparan, Rudi menghabisi kontol itu. Dengan rakus, batang itu dijilati, dikulum, dan dihisap. Seiring dengan hisapan Rudi yang menguat, erangan Eza pun mengeras. Pria macho itu menyerahkan kejantanannya agar bisa dimainkan oleh sahabatnya itu. 

"Hhoohh.. Rud.. Enak.. Oohh.. Hisap terus.. Aahh.. Ayo Rud.. Aakkhh.." Cairan precum mengalir terus dari lubang kencing Eza dan langsung dijilat habis oleh Rudi. 

SLURP! SLURP! Rudi terus mengulum kontol Eza. Pipinya terlihat menggembung-gembung, penuh dengan udara dan kontol Eza. Sebelah tanganya dipakai Rudi untuk mengocok kontolnya sendiri. Precumnya menetes-netes membasahi lantai. Semakin terbakar gairah dan nafsu, Eza menjambak rambut Rudi dan mengarahkannya untuk menghisap lebih dalam lagi. 

"Mmpphh!! Mmpp!!" Hanya itulah yang keluar dari mulut Rudi. 

Demi membuat temannya senang, Eza mengulurkan tangannya yang satu lagi untuk meraba-raba bahu Rudi. Tubuh Rudi memang biasa-biasa saja; tidak kurus dan tidak gemuk. Namun tubuhnya tetap nampak maskulin dan terasa nikmat jika dielus-elus. Elusan tangan Eza bergerak turun dan menemukan sepasang puting yang melenting keras. Tak ayal lagi, mereka dipermain-mainkan oleh Eza. 

"Mmpphh!! Mmpphh!!" Rudi menjadi keblingsatan karena putingnya sangat sensitif. Sedotannya terasa semakin keras, keras, dan.. 
"Oohh!! Rud! Mau keluar!" 

Secara refleks, Eza mencoba untuk menarik kontolnya keluar karena tak mau menyemburkan maninya di dalam mulut Rudi. Baginya, hal itu terasa seperti merendahkan martabat sahabatnya itu. Namun Rudi nampak tak mau melepaskan kontol itu; dia terus saja menghisap dan menghisap. Dan Eza tak tahan lagi. Dia harus ngecret, sekarang juga!! Dengan bertenaga, pria itu mendorong kontolnya sedalam-dalamnya ke kerongkongan Rudi. Dan dengan itu, Eza meledak. 

"Aarrgghh!!" 

Air maninya menyembur deras, membanjiri kerongkongan Rudi yang haus akan sperma laki-laki jantan. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Setiap tembakan pejuh, diiringi jeritan dan erangan nikmat dari mulut Eza ynag bergetar menahan nikmat. 

"Hhoohh!! Aarrgghh!! Uuggh!! Oohh!!" Kontol Eza masih saja menembakkan spermanya, lagi, lagi, dan lagi, sampai akhirnya berhenti sama sekali. 

Tubuh Eza tergolek lemas tak berdaya, letih sekali setelah mengalami orgasme yang luar biasa. Rudi nampak asyik menjilati sisa-sisa lelehan sperma di sekitar selangkangan Eza. 

"Pejuh kamu enak," puji Rudi seraya berdiri dan mempertontonkan batang kontolnya yang sudah basah dan licin dengan precum. Kepala kontolnya berkilat-kilat tertimpa cahaya. 
"Aahh.. Gantian saya yang mau ngecret.. Oohh.." 

Rudi menutup matanya sambil meresapi nikmatnya bermasturbasi. Sekujur tubuhnya yang berlapiskan keringat mulai bergetar hebat. Disertai erangan nikmat yang membahana, Rudi menumpahkan isi kontolnya tepat ke atas dada Eza. 

"Aarrgghh..!!" ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! 

Masih lemas, Eza membiarkan sahabatnya menyemprotkan spermanya ke atas dadanya. Bulu-bulu halus di dada Eza nampak basah dan lengket dengan keringat. Kini, mereka basah dan ternoda dengan cairan kental keputihan dari kontol Rudi. Sperma Rudi terasa panas mendidih saat cairan itu mendarat di atas permukaan kulit Eza. 

"Hhooh.." desah Rudi saat tetes pejuh yang terakhir menetes keluar dari lubang kontolnya. 

Buru-buru, Rudi berlutut kembali di depan Eza. Dengan rakus, Rudi menjilat-jilati tetesan pejuhnya sendiri. Eza tentu saja terperangah. Baru kali ini dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa sahabat yang sangat dikasihinya itu ternyata suka sekali menelan air mani pria lain dan juga air maninya sendiri. Tapi asalkan Rudi bahagia, dia pun akan bahagia juga. Maka Eza membiarkan Rudi beraksi membersihkan dadanya dari cairan pejuh Rudi. SLURP! SLURP! Rudi sangat menikmati rasa pejuhnya, apalagi pejuhnya itu dijilat langsung dari kulit Eza. Ah, akhirnya impiannya terwujud.. 

***** 

Berbulan-bulan telah berlalu setelah kejadian itu. Eza masih ingat betul betapa nikmatnya servis yang diberikan Rudi padanya. Namun Rudi tak kunjung datang sejak hari itu. Kabarnya, dia telah kembali ke Bandung. Eza berusaha untuk menghubunginya namun tiada hasil. Rudi tak pernah mau menjawab HP-nya seakan ogah berbicara. Tentu saja Eza sedih sekali karena Rudi adalah sahabatnya sejak kecil. 

Eza merasa bahwa Rudi mungkin minder dan tidak enak hati dengannya setelah kejadian itu, tapi Eza tidak menyalahkannya dan juga tidak membencinya. Dia masih ingin berteman dengan Rudi. Dalam hatinya, Eza yakin bahwa suatu hari dia akan bertemu kembali dengan Rudi, sahabatnya itu. Semoga saja..
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar